<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Hikmah &#187; kehidupan</title>
	<atom:link href="http://ceritahikmah.wa2n.web.id/tag/kehidupan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id</link>
	<description>Just another wa2n.web.id weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2008 10:43:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>usaha kehidupan&#8230;</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 17:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[jangan menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke       dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang       harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan       sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna
menolong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText"><span style="color: #000080">Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke       dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang       harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan       sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna<br />
menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantu-nya. Mereka       membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span id="more-42"></span><span style="color: #000080">Ketika si keledai       menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia       menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si       petani       melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya.Walaupun punggungnya       terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan       sesuatu yang menakjubkan.Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah       yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Si petani       terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan<br />
itu, namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian       melangkah naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian       melarikan diri.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><em>Ibrah : &#8220;<span style="color: #000080"> Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala       macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari &#8220;sumur&#8221;       (kesedihan dan masalah) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan       kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari       &#8220;sumur&#8221; dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="color: #000080"><em>Setiap masalah-masalah       kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari       &#8220;sumur&#8221; yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah       menyerah. Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah       naik. Wallahu alam&#8221;</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pantulan kehidupan</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 15:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[gema]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Seorang       bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.       Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. &#8220;Aduhh!&#8221; jeritannya memecah
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar       suara di kejauhan menirukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Seorang       bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.       Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. &#8220;<em>Aduhh!&#8221;</em> jeritannya memecah<br />
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar       suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, &#8220;<em>Aduhh!&#8221;.</em> Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, &#8220;<em>Hei! Siapa kau?&#8221;</em> Jawaban yang terdengar, &#8220;<em>Hei! Siapa kau?&#8221;</em> Lantaran kesal       mengetahui       suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, &#8220;<em>Pengecut kamu!&#8221;</em> </span></span></p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan       serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, &#8220;<em>Apa       yang terjadi?&#8221;</em> Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, &#8220;<em>Anakku,       coba perhatikan.&#8221;</em> Lelaki itu berkata keras, &#8220;<em>Saya kagum       padamu!&#8221;</em> Suara di kejauhan menjawab, <em>Saya kagum padamu!&#8221;</em> Sekali lagi sang ayah berteriak &#8220;<em>Kamu sang juara</em>!&#8221; Suara       itu menjawab, &#8220;<em>Kamu sang juara!&#8221;</em> Sang bocah sangat       keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah       menjelaskan, &#8220;Suara itu adalah <em>gema</em>, tapi sesungguhnya itulah <em>kehidupan.&#8221;</em></span></span></p>
<p><em>Ibrah : &#8221; <span style="color: #000080">Kehidupan memberi umpan balik atas semua       ucapan dan tindakan kita. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas       tindakan kita. Bila kita ingin mendapatkan lebih banyak kebaikan di dunia       ini, maka berbuat baiklah kita kepada sesama. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kita berikan kepadanya, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah       bayangan diri kita sendiri.&#8221;<br />
</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
