<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Hikmah &#187; cerita hikmah</title>
	<atom:link href="http://ceritahikmah.wa2n.web.id/category/cerita-hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id</link>
	<description>Just another wa2n.web.id weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Sep 2008 10:43:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ambil resiko sekarang!!</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/ambil-resiko-sekarang/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/ambil-resiko-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 09:23:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[rusa]]></category>
		<category><![CDATA[singa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pagi, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada singa. Kalau tidak, ia akan dimakan singa.
Setiap pagi, seekor singa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada rusa. Kalau tidak, ia akan mati kelaparan.
Tidak menjadi soal apakah anda seekor singa ataukah seekor rusa. Begitu matahari terbit, sebaiknya anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap pagi, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada singa. Kalau tidak, ia akan dimakan singa.</p>
<p>Setiap pagi, seekor singa bangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat daripada rusa. Kalau tidak, ia akan mati kelaparan.</p>
<p><span id="more-52"></span>Tidak menjadi soal apakah anda seekor singa ataukah seekor rusa. Begitu matahari terbit, sebaiknya anda berlari!</p>
<p>Jangan lewatkan waktu sedetik pun, cepatlah berlari menjemput impian anda!  Berusaha adalah mengambil resiko. Tapi resiko harus dihadapi karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak mengambil resiko sama sekali.</p>
<p>Orang yang tidak berani menghadapi resiko, tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Mereka mungkin saja menghindari penderitaan dan kesengsaraan. Tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai atau hidup.</p>
<p>Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri. Hanya orang yang berani mengambil resiko adalah orang yang bebas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/ambil-resiko-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kenapa harus berhenti sekarang?..</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/kenapa-harus-berhenti-sekarang/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/kenapa-harus-berhenti-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 08:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[bill gates]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[gagal]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kentucky fried chicken]]></category>
		<category><![CDATA[microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Dua orang mahasiswa drop out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan sosok besar di dunia software dengan hanya ijazah SMA.

Seorang veteran perang berusia 65 tahun mempunyai gagasan menjual resep ayam goreng miliknya ke restoran-restoran. Banyak orang menertawakan dan menolak gagasannya. Berapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua orang mahasiswa drop out memulai sebuah perusahaan software kecil-kecilan yang sama sekali tidak diperhitungkan akan menjadi besar. Kini Bill Gates dan Tim Allen merupakan sosok besar di dunia software dengan hanya ijazah SMA.<br />
<span id="more-47"></span><br />
Seorang veteran perang berusia 65 tahun mempunyai gagasan menjual resep ayam goreng miliknya ke restoran-restoran. Banyak orang menertawakan dan menolak gagasannya. Berapa kali ia ditolak? 1.009 kali dalam 2 tahun!! Jika ia berhenti pada penolakan yang ke-1.000, mungkin kita tak akan mengenal nama Kolonel Sanders dan Kentucky Fried Chicken.</p>
<p>Memang sebenarnya tidak ada orang yang gagal. Bahkan Soichiro Honda berkata, &#8220;Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya cuma 1%, tapi 99% yang tidak terlihat adalah kegagalan saya.&#8221; Yang ada hanyalah orang yang menyerah dan berhenti sebelum mencapai sukses.</p>
<p>Semoga sukses &amp; tetap semangat!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/09/kenapa-harus-berhenti-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>usaha kehidupan&#8230;</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 17:38:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[jangan menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keledai]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke       dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang       harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan       sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna
menolong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText"><span style="color: #000080">Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke       dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang       harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan       sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna<br />
menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantu-nya. Mereka       membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span id="more-42"></span><span style="color: #000080">Ketika si keledai       menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia       menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si       petani       melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya.Walaupun punggungnya       terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan       sesuatu yang menakjubkan.Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah       yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Si petani       terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan<br />
itu, namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian       melangkah naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian       melarikan diri.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><em>Ibrah : &#8220;<span style="color: #000080"> Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita, segala       macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari &#8220;sumur&#8221;       (kesedihan dan masalah) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan       kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari       &#8220;sumur&#8221; dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="color: #000080"><em>Setiap masalah-masalah       kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari       &#8220;sumur&#8221; yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah       menyerah. Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah       naik. Wallahu alam&#8221;</em><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/42/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dimulai dari sekarang&#8230;</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/dimulai-dari-sekarang/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/dimulai-dari-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 17:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[dimulai dari sekarang]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda merencanakan sesuatu, sesuatu yang akan merubah hidup anda di masa depan saat ini mungkin anda baru sedang berpikir, &#8220;kapan mulainya?, Mulai dari mana?&#8221;
Mungkin ada sesuatu yang selalu anda inginkan atau kerjakan? Sebuah hasrat untuk mengerjakan sesuatu yang anda cita-citakan. Kapan mulainya? Mengapa anda tidak coba mengerjakannya hari ini?

Hari ini adalah waktu yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda merencanakan sesuatu, sesuatu yang akan merubah hidup anda di masa depan saat ini mungkin anda baru sedang berpikir, &#8220;<em>kapan mulainya?, Mulai dari mana?</em>&#8221;</p>
<p>Mungkin ada sesuatu yang selalu anda inginkan atau kerjakan? Sebuah hasrat untuk mengerjakan sesuatu yang anda cita-citakan. Kapan mulainya? Mengapa anda tidak coba mengerjakannya hari ini?</p>
<p><span id="more-38"></span></p>
<p>Hari ini adalah waktu yang paling sempurna untuk memulainya. Dari semua hari yang tersisa di sepanjang hidup anda, tidak ada waktu yang lebih tepat daripada hari ini.</p>
<p>Mau mulai kalau persiapannya sudah sempurna? Waa… bakalan nggak mulai-mulai deh. Mulai saja dari apapun yang anda anggap tidak sempurna. Perbaiki satu demi satu sepanjang jalan dan apa yang anda inginkan akan terwujud. Sebuah masterpiece atau karya besar tidak tercipta dengan sekali jalan.</p>
<p>Memulai sesuatu itu sangat mudah. Semuanya ada di dalam jangkauan anda, termasuk hari ini. Jadi tunggu apalagi? Yang paling penting adalah mulai sekarang juga karena andalah pemilik hari ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/dimulai-dari-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>batu kecil&#8230;</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/batu-kecil/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/batu-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 17:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[karunia]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[rahmat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Seorang       pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.       Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya       yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya    [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Seorang       pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.       Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya       yang ada di bawahnya.<br />
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya       karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja,       sehingga usahanya sia-sia saja. </span> </span></p>
<p><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Oleh       karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba       melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja,       mengambil uang itu<br />
lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua       pun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil       batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai       kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas?       Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.</span></span></p>
<p><em>Hikmah : &#8221; Terkadang Allah ingin menguji kita dengan cobaan yang ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya, bisa jadi limpahan harta juga termasuk cobaan untuk kita. Seringkali Allah melimpahkan segala rahmat, nikmat, dan karunia yang sangat banyak kepada kita namun itu tidak cukup membuat kita menengadah kepada-Nya sehingga kita harus dilempar dengan &#8216;batu kecil&#8217; agar kita selalu tetap di jalan-Nya. Wallahu alam&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/batu-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pantulan kehidupan</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 15:18:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[gema]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Seorang       bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.       Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. &#8220;Aduhh!&#8221; jeritannya memecah
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar       suara di kejauhan menirukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Seorang       bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya.       Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. &#8220;<em>Aduhh!&#8221;</em> jeritannya memecah<br />
keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar       suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, &#8220;<em>Aduhh!&#8221;.</em> Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, &#8220;<em>Hei! Siapa kau?&#8221;</em> Jawaban yang terdengar, &#8220;<em>Hei! Siapa kau?&#8221;</em> Lantaran kesal       mengetahui       suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, &#8220;<em>Pengecut kamu!&#8221;</em> </span></span></p>
<p><span id="more-29"></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt"><span style="color: #000080">Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan       serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, &#8220;<em>Apa       yang terjadi?&#8221;</em> Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, &#8220;<em>Anakku,       coba perhatikan.&#8221;</em> Lelaki itu berkata keras, &#8220;<em>Saya kagum       padamu!&#8221;</em> Suara di kejauhan menjawab, <em>Saya kagum padamu!&#8221;</em> Sekali lagi sang ayah berteriak &#8220;<em>Kamu sang juara</em>!&#8221; Suara       itu menjawab, &#8220;<em>Kamu sang juara!&#8221;</em> Sang bocah sangat       keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah       menjelaskan, &#8220;Suara itu adalah <em>gema</em>, tapi sesungguhnya itulah <em>kehidupan.&#8221;</em></span></span></p>
<p><em>Ibrah : &#8221; <span style="color: #000080">Kehidupan memberi umpan balik atas semua       ucapan dan tindakan kita. Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas       tindakan kita. Bila kita ingin mendapatkan lebih banyak kebaikan di dunia       ini, maka berbuat baiklah kita kepada sesama. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kita berikan kepadanya, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah       bayangan diri kita sendiri.&#8221;<br />
</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/pantulan-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>istriku sayang&#8230;</title>
		<link>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/istriku-sayang/</link>
		<comments>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/istriku-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 13:29:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>shella</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[istriku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritahikmah.wa2n.web.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.
&#8220;Ummi&#8230; Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.</p>
<p>&#8220;Ummi&#8230; Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!&#8221; Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.</p>
<p>&#8220;Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul? Ucap isteriku kalem.</p>
<p>&#8220;Iya. Tapi Abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!&#8221; Jawabku masih dengan nada tinggi.</p>
<p>Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya merebak.<br />
<span id="more-21"></span><br />
.::.<br />
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Namun apa yang terjadi? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal pecah. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan deterjen tapi tak juga dicuci. Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada.</p>
<p>&#8220;Ummi&#8230; Ummi, bagaimana Abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini?&#8221; ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. &#8220;Ummi&#8230; isteri sholihah itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?&#8221;</p>
<p>Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. &#8220;Ah&#8230;wanita gampang sekali untuk menangis,&#8221; batinku. &#8220;Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri shalihah itu tidak cengeng,&#8221; bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai.</p>
<p>&#8220;Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,&#8221; ucap isteriku diselingi isak tangis. &#8220;Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda&#8230;&#8221; Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.</p>
<p>Hamil muda?!?! Subhanallah … Alhamdulillah…</p>
<p>.::.</p>
<p>Bi&#8230;, siang nanti antar Ummi ngaji ya&#8230;?&#8221; pinta isteriku. &#8220;Aduh, Mi&#8230; Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?&#8221; ucapku.<br />
&#8220;Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,&#8221; jawab isteriku.<br />
&#8220;Lho, kok bilang gitu&#8230;?&#8221; selaku.<br />
&#8220;Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,&#8221; ucap isteriku lagi.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,&#8221; jawabku ringan.</p>
<p>.::.</p>
<p>Pertemuan dengan mitra usahaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. &#8220;Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,&#8221; aku membathin.</p>
<p>Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Hati ini menjadi luruh. &#8220;Oh&#8230;.bukankah ini sandal jepit isteriku?&#8221; tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana-mana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku Maryam,&#8221; pinta hatiku.</p>
<p>&#8220;Krek&#8230;,&#8221; suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. &#8220;Ini dia mujahidah (*) ku!&#8221; pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri.</p>
<p>Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: &#8220;Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.&#8221;</p>
<p>Sedang aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!</p>
<p>&#8220;Maryam&#8230;!&#8221; panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.</p>
<p>&#8220;Abi&#8230;!&#8221; bisiknya pelan dan girang. Sungguh, baru kali ini aku melihat isteriku segirang ini.<br />
&#8220;Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?&#8221; sesal hatiku.</p>
<p>.::.</p>
<p>Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. &#8220;Alhamdulillah, jazakallahu&#8230;,&#8221; ucapnya dengan suara mendalam dan penuh ketulusan.</p>
<p>Ah, Maryamku, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud (**) dan &#8216;iffah (***) sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku?</p>
<p><em>(Oleh : Yulia Abdullah)</em></p>
<p><em>Keterangan<br />
</em> (*) mujahidah : wanita yang sedang berjihad<br />
(**) zuhud : membatasi kebutuhan hidup secukupnya walau mampu lebih dari itu<br />
(***) ‘iffah : mampu menahan diri dari rasa malu</p>
<p><em>Ibrah : &#8221; setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, namun kesemuanya akan menjadi sinergy jika kita bisa saling memahami dan ikhlas menerima segala kelebihan dan kekurangan itu. Akan menjadi mudah jika kita selalu menghitung kelebihan pasangan kita lebih banyak daripada kekurangannya, maka insya Allah yang tergambar pada hati kita bahwa suami atau istri kita adalah anugerah yang terindah yang sudah Allah pilihkan untuk kita untuk menyempurnakan separuh agama, wallahualam&#8230;&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritahikmah.wa2n.web.id/2008/09/08/istriku-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
